BAHAN AJAR POWERPOINT PAI SMK

KELAS X SEMESTER 1

  1. Bab I Memahami ayat-ayat al-Qur’an tentang manusia dan tugasnya sebagai khalifah di bumi  Download
  2. Bab II Keikhlasan beribadah Download
  3. Bab III Iman kepada Allah dan Asma’ul Husna Download
  4. Bab IV Sifat-sifat terpuji  Download
  5. Bab V Sumber-sumber hukum islamDownload
  6. Bab VI Keteladanan Rasulullah periode Mekah Download

KELAS X SEMESTER 2

KELAS XI SEMESTER 1

KELAS XI SEMESTER 2

KELAS XII SEMESTER 1

  1. Bab 1
  2. Bab 2
  3. Bab 3 Meningkatkan keimanan kepada Hari Akhir Download.1
  4. Bab 4 Perilaku Terpuji Download

KELAS XII SEMESTER 2

  1. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang IPTEK
  2. Iman kepada Qadha’ dan Qadar Download
  3. Membiasakan Perilaku Terpuji (Persatuan dan Kerukunan) Download
  4. Menghidari Perilaku Tercela (Israf, Tabdzir, Ghibah dan Fitnah) Download

KONSEP MEMBINA KELUARGA BERDASARKAN SURAT AN-NISA [4] AYAT 3

KONSEP MEMBINA KELUARGA
BERDASARKAN SURAT AN-NISA [4] AYAT 3
 
Oleh: Imron Rosadi, M.Pd.I
(Guru PAI SMK Manba’ul ‘Ulum Cirebon)
 
A. Muqaddimah
 
Setiap manusia memiliki dua potensi yang berlawanan dalam dirinya. Ada potensi baik, ada pula potensi buruk. Di satu sisi memiliki potensi pembangun, pada saat yang sama memiliki pula potensi perusak. Ada sifat pemurah, ada pula sifat pendendam, dan seterusnya. Sifat-sifat ini merupakan sifat alamiah manusia. Zaferuddin (2004:17) berpendapat bahwa manusia merupakan kombinasi dari kekuatan-kekuatan yang bertentangan. Kebaikan dan kejahatan, cinta dan permusuhan, serta kualitas-kualitas malaikat dan syetan yang selanjutnya menciptakan seorang manusia. Satu ciri pembeda manusia adalah bahwa manusia merupakan wakil (khalifah) Tuhan.
Dualisme dalam diri manusia ini sudah ditegaskan oleh Allah s.w.t. sebagaimana tercantum dalam al Qur’an surat al Syams, 91 : 7-8
…وَنَفْسٍ وَمَاسَوَّهَا0فَاَلْهَمَهَافُجُوْرَهَاوَتَقْوَاهَا0 (الشمس: 7-8)
Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 2000: 1064). 
Potensi-potensi ini kemudian menjadi penentu watak seseorang. Bila potensi positif yang berkembang, maka ia akan menjadi manusia yang baik. Sebaliknya, bila potensi negatif yang lebih dominan, maka ia akan menjadi manusia yang bertabiat tidak baik.
Agar manusia dapat menjadi lebih baik perlu diadakannya pembinaan bagi setiap keluarga. Dengan pembinaan tersebut manusia diajarkan akan hal-hal yang baik dan diberitahukan akan hal-hal yang tidak baik. Tujuannya, agar setelah mengetahui hal-hal tersebut ia akan termotivasi untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik dan termotivasi untuk mengerjakan hal-hal yang baik.
Allah swt. dalam firman-Nya telah memperingatkan manusia untuk membina keluarganya dengan baik. Dalam QS. Al Tahrîm, 66:6 disebutkan:
يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُم نَارًا وَقُوْدُهَاالنَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَئِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لايَعْصُوْنَ الله مَااَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُوْْمَرُوْنَ 0(التحريم: 6)
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”  (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 2000:951).
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Islam memerintahkan kedua orang tua untuk membina diri dan keluarganya terutama anak-anaknya, agar mereka terhindar dari azab yang pedih. Berdasar hal tersebut, maka perlu untuk dikaji, baik dari teks al Qur’an dan sunnah, maupun dari pendapat para ahli yang menjelaskan tentang membina keluarga.

A.    Pengertian Pendidikan Islam dalam Keluarga

Untuk memahami pengertian pendidikan Islam, diperlukan pembahasan terhadap tiga istilah dalam bahasa Arab, yaitu:
1.      Al-Tarbiyah         (التربية)
2.      Al-Ta’lim             (التعليم)
3.      Al-Ta’dib             (التأديب)
Ketiga istilah di atas, al-Tarbiyah, al-Ta’lim dan al-Ta’dib, merupakan istilah dalam bahasa arab yang memiliki konotasi masing-masing. Menurut salah satu pendapat bahwa istilah al-Tarbiyah dan al-Ta’dib memiliki pengertian lebih dalam dibanding pengertian al-Ta’lim.
Kata al-Tarbiyah menurut Abdurrahman An-Nahlawi (1989: 31) berasal dari tiga kata, yaitu: Pertama, kata “Raba-yarbu” yang berarti bertambah dan bertumbuh, seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat 30 (Al-Ruum) ayat 39, Allah berfirman:
وَمَا ءَاتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللهِ (الروم: 39)
Artinya : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah…” (Hasbi Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 647).
Kedua, rabiya-yarba yang berarti menjadi besar, dan ketiga, berasal dari kata rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara.
Berdasarkan ketiga kata di atas, Abdurrahman Al-Bani dalam Abdurrahman An-Nahlawi (1989: 32) menyimpulkan bahwa tarbiyah terdiri atas empat unsur, yaitu : pertama, menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa (baligh), kedua, mengembangkan seluruh potensi, ketiga, mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan dan, keempat dilaksanakan secara bertahap. Maka dari uraian itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah pengembangan seluruh potensi anak didik secara bertahap menurut ajaran Islam.
At-Tarbiyah yang kata kerjanya Rabba (mendidik) sudah digunakan pada zaman Nabi Muhammad SAW, seperti terlihat dalam Al-Qur’an surat 17 (Al-Isra’) ayat 24, Allah berfirman:
… رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِى صَغِيْرًا (الاسراء: 24)
Artinya : “…Ya Tuhan-ku ! kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 428)
Dalam bentuk kata benda, kata “Rabba” ini digunakan juga untuk Tuhan, mungkin karena Tuhan juga bersifat mendidik, mengasuh, memelihara dan menciptakan. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat 26 (Al-Syu’ara) ayat 18 sejalan dengan pengertian di atas, yaitu:
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ (السعراء: 18)
Artinya : “Berkata (Fir’aun kepada Nabi Musa), bukankah kami telah mengasuhmu (mendidikmu) dalam keluarga kami waktu kamu masih kanak-kanak dan tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 574).
Kata “ta’lim” dengan kata kerjanya “allama” juga sudah digunakan pada zaman nabi. Baik dalam Al-Qur’an, Hadits atau pemakaian sehari-hari, kata ini lebih banyak digunakan daripada kata “tarbiyah” tadi. Sebagaimana firman Allah dalam surat 2 (Al-Baqarah) ayat 31:
وَعَلَّمَ اَدَمَ الْاَسْمَاءَ كُلَّهَا (البقرة: 31)
Artinya : “Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 14)
Dalam firman Allah surat 27 (An-Naml) ayat 16, yaitu:
وَقَالَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ (النمل: 16)
Artinya : “Berkata Sulaiman: Wahai manusia, telah diajarkan kepada kami pengertian bunyi burung” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 595).
Kata “ta’lim” pada kedua ayat tadi mengandung pengertian sekedar memberi tahu atau memberi pengetahuan, tidak mengandung pembinaan keperibadian, karena sedikit sekali kemungkinan membina kepribadian Nabi Adam dengan melalui nama-nama benda.
Kata lain yang mengandung arti pendidikan itu ialah “ta’dib” dengan kata kerja “addaba” seperti sabda Nabi SAW, yaitu:
أدبنى ربى فأحسن تأديبى (الحديث)
Artinya : “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku” (Zakiyah Daradjat, 1991: 27).
Menurut Naquib al-Attas dalam Ahmad Tafsir (1992: 29) kata “ta’dib”-lah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, sebab istilah “tarbiyah” terlalu luas, karena pendidikan dalam istilah ini mencakupi juga pendidikan untuk hewan. Dengan demikian Naquib al-Attas memberikan pengertian pendidikan menurut Islam yaitu: “Pendidikan ialah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia, tentang temapat-tempat yang tepat di bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut” (Naquib al-Attas, 2000: 44)
Zakiyah Daradjat (1992: 27) membandingkan antara kata “tarbiyah, ta’lim dan ta’dib”, maka kata tarbiyah dan ta’dib lebih luas pengertiannya karena mengandung unsur pembinaan, pimpinan, pemeliharaan dan perhatian. Berbeda dengan kata ta’lim hanya mengandung pengertian sekedar memberi tahu.
Uraian-uraian di atas menjelaskan kata pendidikan Islam yang berasal dari kata bahasa arab dan telah dijelaskan masing-masing kata itu. Adapun pengertian pendidikan menurut Ahmad Marimba (1989: 19) adalah “Bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.
Menurut Zakiyah Daradjat (1992: 27) bahwa pengertian pendidikan yang lazim dipahami seperti sekarang belum ada di zaman Nabi, akan tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwa, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian sekarang.
Ahmad Tafsir (1992: 32) memberikan pengertian pendidikan Islam yaitu “Bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam”.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam ialah usaha melalui bimbingan yang dilakukan oleh pendidik terhadap anak didik menuju terbenntuknya kepribadian muslim.
 

B.     Dasar Pendidikan Islam dalam Keluarga

Yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah Firman Tuhan dan Sunnah Rasulullah (Ahmad D. Marimba, 1989: 41). Landasan Pendidikan Islam yang terdiri dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW. dapat dikembangkan dengan ijtihad, al-marsalah al-mursalah, ihtihsan, qiyas dan sebagainya (Zakiyah Daradjat, 1992: 19).
Al-Qur’an, ialah Firman allah berupa wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW,  di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar, yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut aqidah, dan yang berhubungan dengan amal yang disebut syari’ah.
Al-Qur’an itu mencakup segala masalah, baik yang mengenai perubadatan maupun mengenai kemasyarakatan, dan kegiatan berupa pendidikan  banyak sekali mendapat tuntunan yang jelas dalam Al-Qur’an (Ahmad D. Marimba, 1989: 42).
Menurut Abdurrahman An Nahlawi (1989: 43) “Al-Qur’an mempunyai banyak metode dan ciri yang khas dalam mendidik seseorang supaya beriman kepada ke-Esaan Allah dan hari akhir.
Al-Qur’an memperhatikan memberikan keterangan secara memuaskan dan rasional, disertai dengan perangsangan emosi dan kesan insani. Al-Qur’an mendidik akal dan emosi sejalan dengan fitrah, sederhana dan tidak membebani, di samping langsung mengetuk pintu akal dan hati secara serempak. Al-Qur’an beranjak dari hal-hal yang konkrit, dapat disaksikan dan diakui, kemudian beralih kepada hal-hal dogmatis (Abdurrahman An Nahlawi, 1989: 44).
Al-Qur’an sendiri mulai diturunkan dengan ayat-ayat pendidikan. Di sini terdapat isyarat, bahwa tujuan terpenting Al-Qur’an adalah mendidik manusia dengan metode memantulkan, mengajak, menelaah, membaca, belajar dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia, sejak masih berbentuk segumpal darah beku di dalam rahim ibunya. Firman Allah dalam surat 96 (Al-‘Alaq) ayat 1-5, yaitu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ(3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5). (العلق: 1-5).
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mu lah yang paling pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 1079)
Sumber kedua pendidikan Islam dan sistemnya adalah Al-Sunnah. Secara simantik, kata al-Sunnah berarti: “Perjalanan hidup, metode dan jalan”. Secara ilmiah, berarti: “Kumpulan sabda Nabi SAW, perbuatan, peninggalan, sifat, ikrar, larangan, apa yang disukai dan tidak disukainya, bela Negara, ikhwal dan kehidupannya” (Abdurrahman An Nahlawi, 1989: 46).
Al-Sunnah sebagai sumber kedua. Al-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rasullullah. Yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian itu  berjalan (Zakiyah Daradjat, 1992: 20).
Pada mulanya, Al-Sunnah difungsikan untuk mewujudkan dua tujuan, yaitu:
1.      Menjelaskan kandungan Al-Qur’an
Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah surat 16 (An-Nahl) ayat 44, yaitu:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ… (النحل: 44)
Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat, manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka…” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 408).
2.      Menerangkan Syari’at dan adab-adab lain
Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat 62 (Al-Jumu’ah) ayat 2, yaitu:
… وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ… (الجمعة: 2)
Artinya: “… dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah…” (Hasby Ash Shidddiqie, dkk, 1984: 932).
Al-Hikmah adalah al-Sunnah menurut penafsiran Imam Syafi’i, juga berarti metode ilmiah yang merealisasi ajaran-ajaran al-Qur’an. Makna ini juga nampak pada sabda Nabi SAW, yaitu:
ألا وإنى اوتيت الكتاب ومثله معه (الحدث)
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya aku telah memberi Al-Kitab dan yang serupa dengannya” (Abdurrahman an-Nahlawi, 1989: 46).
Menurut Abdurrahman an-Nahlawi (1989: 47) Hadits atau Al-Sunnah dalam lapangan pendidikan mempunyai dua faidah, yaitu:
1.      Menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menerangkan hal-hal kecil yang tidak terdapat di dalamnya.
2.      Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah SAW, berdama para sahabatnya, perlakuannya terhadap anak-anak, dan penanaman keimanan ke dalam jiwa yang dilakukannya”.
Oleh karena itu sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi muslim. Sunnah selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebabnya, mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahaminya termasuk sunnah yang berkaitan dengan pendidikan.
Ijtihad, dalam istilah para fuqaha, yaiatu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuan yang syari’at Islam untuk menetapkan sesuatu hukum syari’at Islam dalam hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur’an dan Al-Sunnah (Zakiyah Daradjat, 1992: 21).
Sasaran Ijtihad ialah segala sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan, yang senantiasa berkembang. Ijtihad bidang pendidikan sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, terasa semakin urgen dan mendesak, tidak saja dibidang materi, atau isi, melainkan juga dibidang system dalam artinya yang luas.
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad tersebut haruslah dalam hal-hal yang berhubungan langsung dengan kebutuhan hidup di suatu tempat pada kondisi dan siatuasi tertentu. Teori-teori pendidikan baru hasil ijtihad harus dikaitkan dengan ajaran Islam dan kebutuhan hidup.
Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah adalah bersifat poko-pokok dan prinsip-prinsipnya saja. (Zakiyah Daradjat, 1992: 22).
 

C.    Tujuan Pendidikan Islam dalam Keluarga

Tujuan artinya sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu usaha atau kegiatan selesai (Zakiyah Daradjat, 1992: 29). Maka dapat dikatakan tujuan pendidikan adalah suatu yang diharapkan tercapai setelah selesainya proses pendidikan. Sedangkan pendidikan itu sendiri adalah proses latihan moral, mental dan fisik secara terus menerus dikembangkan untuk generasi muda (Khursyid Ahmad, 1992: 16).
Menurut Omat Muhammad al-Toumy al-Syaibany (1979: 398) memberikan pengertian tujuan pendidikan yang sederhana yaitu, “Tujuan pendidikan ialah perubahan yang diingini yang diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan untuk mencapainya”.
Usaha kependidikan Islam pada hakekatnya ditujukan untuk menciptakan pertumbuhan yang seimbang dari seluruh kepribadian muslim melalui latihan atas jiwa, akal, diri, rasional, perasaan dan indera-indera jasmaniah. Oleh karena itu pendidikan harus mendukung pertumbuhan jasmaniah manusia dalam semua aspeknya: spiritual, intelektual, imajinatif, fisik ilmiah, linguistic, baik secara individual maupun kolektif. Sekaligus, pendidikan harus mendorong semua aspek ini menuju kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, tujuan akhir pendidikan Islam adalah merealisasikan kepasrahan penuh kepada Allah pada tingkat individu, komunitas dan masyarakat.
Ada empat tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan Islam, yaitu; tujuan umum, tujuan akhir tujuan sementara, dan tujuan operasional.
1.      Tujuan Umum
Tujuan umum, ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan itu meliputi seluruh aspek kehidupan kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan (Zakiyah Daradjat, 1992: 30).
Cara atau alat yang paling efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan ialah pengajaran. Karena itu pengajaran sering diidentikkan, meskipun istilah ini sebenarnya jauh berbeda. Pengajaran ialah proses agar membuat anak terpelajar sedangkan pendidikan ialah proses agar anak menjadi terdidik.
Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional, Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitakan pula dengan tujuan intruksional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu (Zakiyah Daradjat, 1992: 30).
Adapun tujuan pendidikan nasional di negara Indonesia adalah tercantum dalam Undang-Undang RI no 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu:
“Tujuan pendidikan nasional sendiri adalah untuk membentuk manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa” (UUSPN, 2003: 7)
Demikian tujuan umum itu tidak bisa dipisahkan antara tujuan pendidikan Islam dengan tujuan pendidikan nasional.
2.      Tujuan Akhir
Tujuan akhir pendidikan Islam, tujuan asasi dari adanya manusia di dalam alam ini adalah beribadah serta tunduk kepada Allah SWT, juga menjadi khalifah di muka bumi untuk memakmurkannya dengan melaksanakan syari’at dan menaati Allah. Firman Allah dalam Al-Qur’an surat 51 (Al-Dzariyat) ayat 56, yaiatu:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ (الذريت: 56)
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 862)
Jika hal itu tujuan hidup manusia, maka pendidikannyapun harus mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengembangkan pikiran manusia dan mengatur tingkah laku serta perasaannya berdasarkan Islam. Dengan demikian tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan ubudiyah kepada Allah di dalam kehidupan manusia, baik individu maupun masyarakat.
Pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat ketika hidup di dunia ini telah berakhir. Tujuan umum yang berbentuk insan kamil dengan pola takwa terhadap tuhan dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Orang yang sudah takwa dalam bentuk insan kamil, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan agar tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dalam firman Allah surat 3 (Ali Imran) ayat 102, yaitu:
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.(ال عمران: 102)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya: dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 92).
Berdasarkan uraian di atas, jelaslah bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah insan kamil yang bertakwa dan mati dalam keadaan Islam atau berserah diri kepada Allah.
3.      Tujuan Sementara
Tujuan sementara pendidikan Islam, ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal (Zakiyah Daradjat, 1992: 31). Tujuan operasional dalam bentuk tujuan intruksional yang dikembangkan jadi tujuan intruksional umum dan khusus (TIU dan TIK), dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.
Pada tujuan sementara bentuk insan kamil dengan pola takwa sudah kelihatan meskipun dalam ukuran sederhana, sekurang-kurangnya beberapa cirri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan Islam seolah-olah merupakan suatu lingkaran yang tingkat paling rendah merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat perlulaan, bentuk lingkarannya harus kelihatan. Bentuk lingkaran inilah yang menggambarkan insan kamil itu. Disinilah perbedaan yang mendasar untuk tujuan pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya.
4.      Tujuan Operasional
Tujuan operasional, ialah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Suatu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu tersebut disebut tujuan operasional (Zakiyah Daradjat, 1992: 32).
Dalam pendidikan formal, tujuan operasional ini disebut juga tujuan intruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus. Tujuan intruksional ini merupakan tujuan pengajaran yang direncakanakan dalam unit-unit kegiatan pengajaran.
Dalam tujuan operasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan keterampilan tertentu. Sifat operasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Untuk tingkat paling rendah, sifat yang berisi kemampuan dan keterampilan juga keahlian yang ditonjolkan.
 
 

D. Penafsiran Surat An-Nisa [4] Ayat 3

 
1.    Surat An-Nisa [4] Ayat 3
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا(3)
 
2.     Terjemah Surat An-Nisa [4] Ayat 3
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: )
 
3.    Penafsiran Kata-kata Surat An-Nisa [4] Ayat 3
تُقْسِطُوا
Berbuat adil
فَانْكِحُوا
Maka nikahilah
مَا طَابَ
Apa yang dihalalkan
مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ
Dua-dua atau tiga-tiga atau empat-empat
أَدْنَى
Lebih dekat
تَعُولُوا
Durhaka dan berbuat aniaya
 


4.    Penjelasan Tafsili Surat An-Nisa 3
Keluarga adalah unit pertama dan institusi pertama dalam masyarakat di mana hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besarnya, bersifat hubungan-hubungan langsung. Dalam keluarga itulah berkembang individu dan terbentuknya tahap-tahap awal proses pemasyarakatan, dan melalui interaksi dengannya anak memperleh pengetahuan, keterampilan, minat, nilai-nilai, emosi, dan sikapnya dalam hidup dan dengan itu ia memperoleh keterampilan dan ketenangan.
Pembentukan keluarga dalam Islam bermula dengan terciptanya hubungan suci yang menjalin seorang laki-laki dan seorang perempuan melalui pernikahan yang halal, memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat syahnya. Oleh sebab itu kedua suami istri itu merupakan dua unsur utama dalam keluarga. Dengan kata lain keluarga adalah perkumpulan yang halal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bersifat terus menerus dimana yang satu merasa tenteram dengan yang lain sesuai dengan yang ditentukan oleh agama dan masyarakat.
Ketika suami istri dikarunia seorang anak atau lebih, maka anak-anak itu menjadi unsur utama ketiga pada keluarga tersebut di samping dua unsur sebelumnya. Masing-masing unsur yang tiga ini, yaitu suami istri dan anak mempunyai peranan penting dalam membina dan menegakkan keluarga, sehingga kalau salah satu unsur itu hilang, maka keluarga menjadi goncang dan keluarga kehilangan keseimbangan. Jika keluarga kehilangan unsur pertama, yaitu suami atau bapak, maka keluarga itu kehilangan tongkat utamanya yaitu pencari rezekinya, di samping unsur kekuasaan, pimpinan, jaminan, tauladan yang baik dan sumber terpenting dalam bimbingan dan pendidikan. Kalau unsur kedua yaitu isteri atau si ibu, maka keluarga kehilangan sumber utama bagi ketentraman, ketenangan, kasih sayang, yang harus wujud pada setiap keluarga. Yang paling banyak menerima hilangnya istri adalah anak-anaknya, terutama kalau mereka masih kecil. Begitu juga kalau unsur ketiga hilang, yaitu anak-anak, keluarga yang demikian tidak menikmati kebahagiaan sebesar-besarnya dalam dunia ini, sebagaimana ia selalu terancam oleh kegoncangan hidup yang kadang-kadang dapat menghapus namanya sama sekali dari permukaan bumi ini.
Islam memandang keluarga sebagai lingkungan atau mileu pertama bagi individu di mana ia berinteraksi. Dari interaksi dengan mileu pertama itu individu memperoleh unsur-unsur dan ciri-ciri dasar dari kepribadiannya. Juga dari situ ia memperoleh akhlak, nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan dan emosinya dan dengan itu ia merobah banyak kemungkinan-kemungkinan, kesanggupan-kesanggupan dan kesediaannya menjadi kenyataan.
Dalam surat An-Nisa ayat 3 dijelaskan bahwa apabila kamu merasa takut terhadap dirimu sendiri karena takut memakan harta istri yatim, maka janganlah kamu kawin dengannya. Karena sesungguhnya Allah telah memberikan kekuasaan terhadap kamu untuk tidak menikahi anak yatim, yaitu dengan menghalalkan kamu boleh nikah dengan wanita-wanita selain yatim, satu, dua, tiga atau empat.
Tetapi jika kamu merasa tidak akan bisa berbuat adil di antara dua orang istri-istri, maka kamu harus memegang satu istri saja. Perasaan takut tidak bisa berbuat adil bisa dirasakan dengan zan (kepastian) dan juga bisa dengan syak (ragu-ragu) terhadapnya. Laki-laki yang dibolehkan lebih dari satu hanyalah orang yang merasa yakin dirinya bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya nanti. Keyakinan dalam hal ini tidak boleh dicampuri dengan perasaan ragu-ragu.
Hendaknya kalian mencukupkan hanya dengan seorang istri dan wanita-wanita merdeka, dan bersenang-senanglah dengan wanita yang kamu sukai dari hamba-hamba wanita, karena tidak ada kewajiban berbuat adil diantara mereka. Tetapi mereka hanya berhak mencapat kecukupan nafkah, sesuai dengan standar yang berlaku dikalangan mereka. (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 234)
Berlaku adil dalam hal ini hanya selagi masih bisa dilakukan oleh kemampuan manusia, seperti memberi rumah yang sama, pakaian yang sama, dan sebagainya. Sedangkan hal yang di luar kemampuan manusia seperti kecenderungan hati manusia terhadap seorang istri, tidak terhadap istri-istri yang lain.
Oleh karena itu Rasullualh memerintahkan untuk menikah bagi mereka yang telah memiliki kesanggupan baik dzahir maupun batin, sebagaimana sabdanya:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Artinya : Wahai golongan pemuda! siapa di antara kamu yang telah mempunyai keupayaan yiaitu zahir dan batin untuk berkahwin, maka hendaklah dia berkahwin. Sesungguhnya perkahwinan itu dapat menjaga pandangan mata dan menjaga kehormatan. Maka sesiapa yang tidak berkemampuan, hendaklah dia berpuasa kerana puasa itu dapat mengawal iaitu benteng nafsu (Al-Bayan, Hadits 809)
Beberapa keistimewaan poligami
Pada prinsipnya kebahagiaan berumah tangga bagi seorang suami hanya apabila mempunyai seorang istri saja, karena bentuk rumah tangga seperti itu adalah yang paling sempurna, yang seharusnya dipelihara oleh setiap individu dan diyakini. Tetapi memang ada beberapa kondisi yang dialami seseorang yang mendorongnya menyimpang dari ketentuan tersebut karena ada kemaslahatan-kemaslahatan penting yang berkait dengan kehidupan rumah tangganya, atau kemaslahatan umatnya. Sehingga poligami bagi dirinya tidak bisa diletakkan lagi: kondisi-kondisi tersebut ialah sebagai berikut:
a.       Bila seorang suami beristri seorang wanita mandul, sedang ia sangat mengharapkan anak. Termasuk kemaslahatan sang istri dan kemaslahatan mereka (suami istri), hendaknya suami menetapkan istri pertamanya, kemudian mengawini wanita lain. Terlebih lagi jika status sang suami sebagai seorang yang terpendang dan memiliki kekayaan, misalnya seorang raja atau amir.
Tentang pentingnya unsur anak ini sendiri banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang menegaskan bagaimana tabiat manusia suka mempunyai anak sebagai salah satu perhisan hidup dan sumber kebahagiaan umat manusia jika anak-anak shaleh, firman Allah SWT, dalam surat 3 (Ali Imran) ayat 14, yaitu:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ (ال عمران: 14)
Artinya: “Dijadikan indah (pada pandangan) manusia kecintaan kepada yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, … ” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 77).
Dalam firman Allah SWT, surat 18 (Al-Kahfi) ayat 46, yaitu:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا (الكهف: 46)

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi salah adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (Hasby Ash Shiddiqie, dkk, 1984: 450).
b.      Bila istri telah tua, dan telah mencapai umur yai’sah (tidak haid) lagi, kemudian sang suami berkeinginan mempunyai anak, dan ia mampu memberikan nafkah kepada lebih dari seorang istri, mampu pula menjamin kebutuhan anak-anaknya termasuk pendidikan mereka.
c.       Bila sang suami tidak cukup hanya mempunyai seorang istri, demi terpeliharanya kehormatan diri (agar tidak zina) karena kapabilitas seksualnya memang mendorong untuk berpolgami, sedang sang istri kebalikannya. Atau karena masa haid sang istri, umpamanya terlalu panjang, sehingga memakan waktu sebagian besar dari bulannya. Sehingga kini posisi suami dihadapkan pada dua alternatif. Terkadang ia harus kawin lagi, atau terjerumus ke dalam perbuatan zina yang akibatnya menyia-nyiakan agama, harta benda, dan kesehatannya. Akibatnya lebih berbahaya bagi seorang istri disbanding jika sang suami memadunya dengan istri lain yang disertai keadilan sang suami terhadap semuanya, sebagaimana yang menjadi syarat dibolehkannya poligami dalam Islam.
d.      Bila dari hasil sensus kaum wanita lebih banyak dari kaum pria, dalam suatu negara, dengan perbandingan yang mencolok. Hal ini bisa terjadi setelah suatu negara bisa saja mengalami peperangan yang banyak menewaskan kaum pria. Dalam keadaan seperti itu tidak ada sarana lain bagi wanita dalam mencari kasab, kecuali hanya dengan menjual diri (kehormatannya) akibatnya jelas akan membuat wanita itu hidup sengsara, karena harus menjamin nafkah diri dan anak-anaknya yang telah kehilangan seorang ayah sebagai penanggung kebutuhan mereka. Terlebih lagi jika hal itu terjadi setelah melahirkan dan dalam masa penyusuan, sungguh mengharukan (Ahmad Mustofa Al-Maraghi, 1993: 326-327).
Berdasarkan keterangan di atas, jelas ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan. Pertama poligami tidak diperbolehkan manakala sorang suami tidak dapat berbuat adil terhada. Dan kedua poligagami diperbilehkan manakala keempat masalah di atas terjadi.

E. Kesimpulan

 
Berdasarkan penjelasan pada bab terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan yaitu :
1.      Konsep pendidikan Islam dalam keluarga adalah terselenggaranya pendidikan dalam keluarga muslim sejak awal pembentukan keluarga, berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Tujuan pendidikan Islam adalah terciptanya insan kamil (manusia sempurna) yaitu muslim yang bertakwa sehingga dapat mengabdikan diri dengan sepenuhnya kepada Allah dan mati dalam keadaan beragama Islam.
2.      Konsep poligami berdasarkan surat An-Nisa [4] ayat 3 dapat dijelaskan bahwa Islam melarang poligami bagi setiap suami yang tidak dapat berbuat adil. Dan Islam membolehkan poligami dengan alasan yaitu:
a.       Istri mandul sedang ia memngharapkan kehadiran seorang anak.
b.      Bila istri telah tua, dan telah mencapai umur yai’sah (tidak haid) lagi, kemudian sang suami berkeinginan mempunyai anak
c.       Bila sang suami tidak cukup hanya mempunyai seorang istri, demi terpeliharanya kehormatan diri (agar tidak zina) karena kapabilitas seksualnya memang mendorong untuk berpolgami, sedang sang istri kebalikannya.
d.      Bila dari hasil sensus kaum wanita lebih banyak dari kaum pria, dalam suatu negara, dengan perbandingan yang mencolok


DAFTAR PUSTAKA
 
 
 
Abdurrahman Annahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Diponegoro, Bandung, 1989.
 
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1989.
 
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Rosdakarya, Bandung, 1992.
 
Ahmad Mustofa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi jilid 4 (Terj.), Toha Putra, Semarang, 1996
 
Al-Bayan program, (Kumpulan Hadits Bukhari Muslim) Copyright (c) SAKHR Software. An Affiliate of al Alamiay group, 1997.
 
Hasby Ash Shiddiqie, dkk, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Proyek Pengembangan Kitab Suci Al-Qur’an, Jakarta, 1984.
 
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam Bulan Bintang, Jakarta, 1987.
 
Khursyd Ahmad, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, Usaha Nasional, Surabaya, 1992.
 
Salim Bahreisy, Said bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Bina Ilmu, Surabaya, 1986.
 
The Holy Qur’an Program (version. 6.50), Copyright (c) SAKHR Software. An Affiliate of al Alamiay group, 1997.
 
 
UU RI. No 20, Tentang Sistrem Pendidikan Nasional, Kloang Klode Jaya, Jakarta, 2003.
 
Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1991.
 
——————–, Ilmu Pendidikan Islam, Dirjen Pembinaan Kelembagaan Pendidikan Islam, Jakarta, 1992.